(0271) 636506
kel-jebres@surakarta.go.id

29-10-2026

WIB

Profil Kelurahan

SEJARAH SINGKAT KELURAHAN JEBRES

Sepenggal sejarah di langit kraton Surakarta Hadiningrat kisaran tahun 1827. Suasana di kraton Surakarta makin memanas, Perang Jawa makin bergelora dan melebarkan pengaruh hingga tlatah kraton Surakarta.

Sinuhun Paku Buwono VI yang simpati dengan perjuangan Pangeran Diponegoro berpikirkeras agar dapat membantu perjuangan sahid itu, tetapi beliau tidak maudukungannya itu diketahui oleh pihak Belanda. Untuk itu beliau merubah fungsimenara hilal di dataran tinggi Gunung Kendil (kawasan UNS saat ini) menjadi menara pengintai Beteng Vastenburg yang merupakan tangsi pasukan Kompeni Belanda. Sebagai kelengkapanjuga dibentuklah satuan laskartelik sandi (pasukanpengintai) yang berjumlah tujuh orang. Sebagai senopati pasukan telik sandi ituadalah Taruna yang kemudian mendapat anugerah nama menjadi Ki Joyo Mustopo dan wakilnya adalah Suryo Padmo Negoro.

Laskar telik sandi tersebut merupakan prajurit berani mati yang diberi nama Laskar Balkiyo. Laskar telik sandi yang bermarkas di menara hilal Gunung Kendil, bertugas mengawasi kegiatan Belanda di Beteng Vastenburg secara jarak jauh dengan menggunakan teropong Van Bosch. Hasil pengintaian itu kemudian dilaporkan ke markas penyusunan strategi perang pasukan Laskar Diponegoro di hutan Krendo Wahono. Karena di hutan itu sering diadakan pertemuan antara Sinuhun Paku Buwono VI yang menyamar menjadi Kiai Bangun Tapa dengan Pangeran Diponegoro atau utusannya seperti Senthot Prawirodirjo maupun Ali Basyah. Sehingga tidak jarang Ki Joyo Mustopo harus hilir mudik dengan mengendarai kuda antara Gunung Kendil, hutan Krendo Wahono dan bahkan menempuh perjalanan ke Gua Selarong di Yogyakarta. Berkat jasa para telik sandi ini pihak Belanda sering mengalami kekalahan dalam berbagai pertempuran.

Menyadari akan hal itu, Belanda pun berusaha memperkuat pasukannya dengan mendatangkan prajurit baik dari negeri Belanda maupun merekrutnya dari penjuru nusantara. Penambahan laskar itu merupakan ancaman besar bagi perjuangan Pangeran Diponegoro. Maka tidak ada jalan lain bagi laskar pejuang itu selain merekrut para pemuda bergabung dengan laskar Pangeran Diponegoro untuk berjuang mengusir Kompeni Belanda. 

Laskar telik sandi di Gunung Kendil pun tidak mauketinggalan. Pada tanggal 23 September 1827; Ki Joyo Mustopo menggelar pendadaranpemuda di sekitar Gunung Kendil. Para pemuda itu digladhi untukmenjadi pasukan pengintai yang tangguh. Agar tidak menjadi pusat perhatianpihak Belanda, kegiatan itu dikemas dalam acara makan bersama (kembul bujana) dengan nasi kaul berupa nasi yang ditaruh padasebuah encekan (anyaman dari bambu) sehingga nasi itu terkenal dengan sebutan segaencekan. 


Ditengah-tengah berlangsungnya acara itu, datanglah kabar bahwa akan rawuh tamubesar dari Sanggrahan untuk turut bergabung. Sanggrahan adalah sebuah tempatpersinggahan Sinuhun yang berada di tepi sungai Bengawan, tempat itu merupakantempat plesiran Sinuhun dan sentana kraton Surakarta. Mendengar kabarmenggembirakan itu; Ki Joyo Mustopo segera mapag (menyambut)sendiri tamu yang akan hadir itu. Dan benar, yang hadir adalah Kiai Bangun Tapaatau Sinuhun Paku Buwono VI yang merupakan Raja Surakarta Hadiningrat.Selanjutnya tempat bertemunya Ki Demang Joyo Mustopo dengan Kiai Bangun Tapaitu kini terkenal dengan sebutan kampung Mapagan. Suksessudah Ki Joyo Mustopo merekrut para pemuda di sekitar Gunung Kendil untukmenambah kekuatan laskar telik sandi Balkiyo. Atas keberhasilan itu, SinuhunPaku Buwono VI pun merasa bangga. Dan pada kesempatan itu, Sinuhun Paku BuwonoVI untuk mengelabuhi pihak Belanda mengukuhkan Ki Joyo Mustopo sebagai Demangdi wilayah tepi Sungai Bengawan hingga menjorok ke wilayah Sana Sewu. Strategiitu dilakukan karena Belanda telah mengetahui bahwa wilayah di tepi sungaiBengawan itu merupakan wilayah persembunyian para telik sandi. Pihak Belandamenyebut wilayah itu lahan hutan atau landvarest.Bersamaanwaktu, di sekitar tangsi Lemah Abang ada sebuah pabrik pengolahan keju bernama Victory milikseorang pengusaha Belanda bernama Tuan Victor J Pressen.Seorang tuan Belanda yang cukup peduli dengan kaum pribumi. LidahJawa terlalu sulit menyebut land varest ataupun J Pressen yangakhirnya hanya tersebut sepenggal kata; Lanfres ataupun J-pres.Maka lambat laun seiring bergulirnya waktu, wilayah tepi sungai Bengawan ituterkenal dengan sebutan Jebres. WilayahKademangan Jebres juga merupakan lumbung pangan (pedaringan) dan peternakan(banyak terdapat kandang sapi). Bahkan tempat yang awalnya berupa alas bebondotan (hutan belantara) itu lambat laun ramaidipadati penduduk.


Selain digunakan sebagai nama kampung,Jebres diabadikan pula menjadi nama kecamatan di Surakarta. Wilayah Jebresmeliputi perempatan panggung ke timur sampai depan Rumah Sakit Dr. Moewardi, keselatan berbatasan dengan kampung Ngemingan. Terdapat beberapa versi asal-usulpenamaan daerah Jebres, diantaranya:

1. Menurut beberapa sumber disebutkanbahwa pada masa lalu daerah ini merupakan tempat tinggal Ki Jebres, seorangabdi dalem kusir jaman Sunan Pakubuwono IV.

2. Menurut Majalah Dharma Kandha(Februari, 1972, Tahun III, No.117), Jebres berasal dari nama seorangberkebangsaan Belanda bernama J. Pressen, beliau adalahpengusaha kaleng susu. Bekas Rumah tempat tinggal J. Pressen terletak disebelah utara Stasiun Jebres. Rumah ini berdekatan dengan rumah seorangpengusaha pemerahan susu sapi bernama M. Ming (daerah itu sekarang dikenaldengan nama Kampung Ngemingan). Lokasi sekitar tempat pemerahan susu tersebutsekarang digunakan untuk kantor Kelurahan Jebres.

3. Raden Tumenggung Taryakusuma mengatakanbahwa Jebres dahulu merupakan tempat tinggal seorang Belanda bernama Jasper,seorang pedagang besi

4. Dalam babad Prambanan (1916: hal. 22), dikatakanJebres adalah hutan belantara yang tumbuh di selatan Tembayat dan Masaran,sudah dipenuhi dengan prajurit bersenjata lengkap. Daerah ini konon merupakan tempat berburu para raja.